
SAMARINDA (GanggamPost) kaltim jadi tuan rumah perhelatan Kejuaraan Nasional (kejurnas kurash 2025. Digelar di GOR Kadrie Oening Samarinda pada 17–22 Juni 2025. Ajang ini diikuti 185 atlet dari 24 provinsi se-Indonesia yang saling unjuk kekuatan di 34 kelas yang dipertandingkan.
Lebih dari sekadar perebutan medali, Kejurnas ini menjadi momentum pengukuhan kepengurusan Pengprov Federasi Kurash Indonesia (Ferkushi) Kalimantan Timur di bawah komando Sapto Setyo Pramono.
“Kita memang menawarkan beberapa provinsi. Tapi kali ini Kaltim menyatakan kesiapannya 100 persen. Maka kita fokuskan di sini,” kata Ketua Umum Ferkushi, Mayjen (Purn) Teuku Ahmad Hafil Fuddin, sebelum pembukaan berlangsung, Rabu (19/6).
Hafil menilai antusiasme Kaltim sebagai tuan rumah menjadi contoh bahwa olahraga bela diri asal Uzbekistan ini mulai menancapkan akar pembinaan hingga ke daerah. Keikutsertaan 24 provinsi menjadi bukti geliat itu.
“Jangan di Jakarta terus. Sekali-sekali di luar pulau. Dari Surabaya saja bisa sampai ke sini, berarti semua memang serius,” ujar Hafil.
Kejurnas ini juga dirangkai dengan rapat kerja nasional (Rakernas) Ferkushi. Dalam forum itu, Hafil menekankan pentingnya tiga pilar pembinaan yang wajib dijalankan setiap pengurus provinsi: tata kelola organisasi, tata kelola pembinaan prestasi, serta tata kelola administrasi dan keuangan.
“Organisasi harus solid. Kalau berantem terus, atletnya juga kacau. Kaltim ini tiga kali ganti ketua. Baru sekarang saya bisa lantik yang sah,” ujarnya.
Dari sisi prestasi, Kurash Kaltim memang mulai menunjukkan taji. Pada PON XX di Papua, meski hanya eksibisi, atlet Kaltim menyumbang satu emas dan dua perak. “Ini indikasi bahwa pembinaan sudah ke arah yang benar. Ke depan, kita arahkan ke ajang lebih tinggi,” kata Hafil.
Sayangnya, Kurash belum masuk dalam cabang olahraga yang dipertandingkan di SEA Games 2025 Thailand karena keterbatasan ekonomi dan fokus pada cabang Olimpiade. Tapi Kurash dijadwalkan tampil di Asian Games Tokyo 2027. “Itu target kita. Makanya dari Kejurnas ini, juara-juara akan kita seleksi lagi lewat Seleknas. Yang terbaik kita kirim ke luar negeri,” katanya.
Namun Hafil menegaskan bahwa pengiriman atlet ke level internasional tidak bisa asal tunjuk. “Harus juara nasional dulu. Baru dilihat, apakah dia punya prestasi berulang, atau cuma sekali menang. Selektif sekali,” katanya.
Pada kesempatan lain, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, HM Agus Hari Kusuma, menyebut Kejurnas ini bagian dari proses panjang penjaringan atlet. “Ini pembibitan menuju level yang lebih tinggi. Kita lihat potensi tiap, lalu rumuskan strategi pembinaan,” katanya.
Agus menambahkan, perolehan Kurash Kaltim satu emas dan dua perak dari PON XXI Aceh sebelumnya jadi pijakan penting untuk meningkatkan perhatian terhadap Kurash di Kaltim. “Dulu di Papua hanya eksibisi, sekarang ada progres. Harapan kami nanti minimal lima medali dari Kurash di ajang mendatang,” ujarnya.
Dispora, kata dia, siap mendukung pembinaan di tingkat kabupaten/kota. Namun ia juga menekankan pentingnya konsistensi kepengurusan di bawah. “Kalau ketuanya tidak aktif, ya harus dievaluasi. Karena pembinaan tidak bisa jalan sendiri tanpa struktur organisasi yang kuat,” kata Agus. (Adv Dispora kaltim/Gb)
![]()