+62-821-5480-8229

Header Dispora Kaltim

Warisan Budaya yang Bergerak: Kaltim Dorong Olahraga Tradisional Jadi Simbol Identitas dan Kebugaran  

SAMARINDA (GanggamPost)  Di balik sorotan terhadap cabang olahraga unggulan seperti sepak bola dan bulutangkis, geliat olahraga tradisional di Kalimantan Timur perlahan tapi pasti mulai menunjukkan potensi strategisnya. Tak sekadar aktivitas fisik, olahraga berbasis budaya ini kini dilirik sebagai bagian penting dari pembangunan identitas lokal sekaligus peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Tergabung dalam Induk Organisasi Olahraga (Inorga) di bawah naungan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI), olahraga-olahraga tradisional ini membawa misi berbeda dari cabang olahraga prestasi. Ia menitik beratkan pada kekuatan budaya, permainan rakyat, serta nilai-nilai lokal yang terpatri dalam keseharian masyarakat.

Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Kaltim, AA Bagus Saputra Sugiarta, menyebut, kekuatan olahraga tradisional justru terletak pada akarnya yang lokal.

“Olahraga ini tumbuh dari kearifan budaya. Ia bukan hanya soal gerak, tetapi juga nilai dan sejarah,” ujarnya.

Dari 89 jenis inorga yang telah diakui secara nasional—mulai dari panahan tradisional, menyumpit, hingga enggrang dan permainan layang-layang—sebagian telah mendapatkan tempat tersendiri di Kalimantan Timur. Tiga yang kini paling menonjol adalah panahan tradisional, menyumpit, dan enggrang, dengan komunitas yang aktif dan minat publik yang terus berkembang.

“Ada dorongan dari masyarakat sendiri untuk menjaga dan mengembangkan warisan ini,” jelasnya.

Menariknya, olahraga tradisional kini tak hanya berfungsi sebagai sarana rekreasi, tetapi juga mulai masuk ke ranah kompetitif. Panahan tradisional, misalnya, telah masuk dalam agenda olahraga nasional dan akan tampil dalam ajang internasional seperti Tafisa Asian Games 2026, yang akan digelar di Kalimantan Timur sebagai tuan rumah.

Menyadari potensi tersebut, Dispora Kaltim menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem olahraga tradisional. Pembinaan komunitas, pelatihan juri, serta promosi lokal menjadi bagian dari strategi yang tengah dikembangkan secara sistematis.

“Kami tidak ingin olahraga tradisional sekadar eksis sebagai hiburan sesaat. Ia harus tumbuh sejajar dengan cabang olahraga besar, karena nilai-nilainya jauh lebih dalam—menyentuh budaya, kebugaran, dan identitas daerah,” katanya. (Adv Dispora kaltim/yud)

Loading

Kadispora Kaltim

Populer

Solverwp- WordPress Theme and Plugin